Tampilkan postingan dengan label cerita ngentot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita ngentot. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Cerita 17+ Main dengan Tante Murni


Ibuku adalah 7 bersaudara, dan beliau adalah anak tertua kedua, kemudian adik-adiknya ada 4 orang, berturut-turut perempuan dan yang bungsu laki laki, adik perempuan yang terkecil tinggal bersama kami sejak aku masih kecil.

Sejak aku usia 8 tahun (kira kira kelas 3 SD), tanteku itu mulai ikut tinggal di rumah kami, sebut saja Tante Murni. Tante Murni terpaut sekitar 6 tahun denganku, jadi waktu itu usianya 14 thn. Setelah lulus SMP di K, Tante Murni tidak mau meneruskan ke SMA dan memilih ikut kakaknya di Jakarta, katanya mau tahu Jakarta. Wajah Tante Murni sangat menarik, bulat, cukup cantik, kulit sawo matang, dengan tinggi seperti anak perempuan usia 14 tahun, tetapi dalam pandanganku sepertinya tubuh Tante Murni lebih montok dibanding teman seusianya yang lain. Sebagai gadis remaja yang sedang mekar tubuhnya, tanteku ini juga agak sedikit genit. Dia senang berlama-lama jika sedang merias dirinya di depan cermin, aku sering menggodanya dan Tante Murni selalu tertawa saja.

Aku sendiri anak tertua dari tiga bersaudara (semua saudaraku perempuan). Rumahku waktu itu hanya mempunyai 3 kamar, satu kamar orang tuaku dan dua untuk anak anak. Kedua adikku tidur dalam satu kamar, dan aku menempati kamar lain yang lebih kecil. Sejak Tante Murni tinggal dengan kami, tante tidur dengan kedua adikku ini.

Pergaulan Tante Murni dengan tetangga sekitar juga sangat baik, ia cepat akrab dengan anak remaja sebayanya, antara lain tetangga kami Suli. Usianya tak jauh beda dengan tanteku kira-kira 15 tahun, tapi berbeda dengan tanteku, Suli berkulit putih bersih dan jauh lebih tinggi (kata orang bongsor), wajahnya ayu, rambutnya selalu disisir poni, murah senyum dan baik hati. Ia sangat baik terhadap semua saudaraku terlebih terhadapku, mungkin karena ia anak tunggal dan sangat mendambakan seorang adik laki-laki seperti yang sering dikatakannya kepadaku. Mbak Suli sering bermain di rumah kami, bahkan beberapa kali ikut tidur di rumah kami bila hari libur, oh ya Mbak Suli ini kelas 2 SMEA.

Sekitar dua bulan setelah Tante Murni tinggal di rumahku, suatu saat Ibu dan almarhum ayahku harus meninggalkan kami karena suatu urusan di Jawa Tengah (almarhum berasal dari sana) katanya urusan warisan atau apalah waktu itu aku tidak begitu paham. Adikku yang kecil (2,5 thn.) diajak serta, sedangkan kami dititipkan pada tetangga sebelah rumah (kami saling dekat dengan tetangga kiri-kanan) dan tentu saja pada Tante Murni.

Tante Murni orangnya sangat telaten mengurus para keponakan, mungkin karena di desa dulu memang tanteku itu orang yang "prigel" dalam pekerjaan rumah tangga. Setiap hari Tante Murni bersama adikku selalu mengantarku sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah. Lalu ia pulang dan menjemputku lagi pada jam pulang sekolah (kira-kira pukul 10:30). Aku sangat senang dijemput Tante Murni, karena aku punya kesempatan untuk menggandengnya dan menepuk pantatnya yang montok itu. Entah mengapa meskipun aku saat itu masih kecil, tetapi kemontokan dada Tante Murni serta juga pinggulnya yang menonjol itu membuat aku selalu berusaha menyentuhnya terutama secara "pura pura" tidak sengaja. Semuanya itu aku lakukan secara intuitif saja, tanpa ada siapapun yang mengajari.

Pada hari keempat sejak ditinggal pergi kedua orang tuaku (hari Sabtu), Sepulang sekolah, kami bermain di ruang depan sambil nonton televisi. Aku, adikku, Tante Murni dan Mbak Suli. Orang tua Mbak Suli inilah yang dititipi oleh orang tuaku. Masa kecilku memang lebih banyak dihabiskan di dalam rumah, jarang aku bermain di luar rumah kecuali bila sekolah, dan pergaulanku juga lebih banyak dengan adikku, atau beberapa anak sebaya tetangga terdekat, itupun kebanyakan mereka perempuan.

Kami biasanya bermain mobil-mobilan atau sesekali bermain dokter-dokteran, aku jadi dokter lalu Tante Murni dan Mbak Suli menjadi pasien. Kadang-kadang bila aku sedang berpura-pura memeriksa dengan stetoskop mainanku secara mencuri-curi aku menyenggol payudara Mbak Suli atau tanteku, tapi mereka tidak marah hanya tersenyum sambil berkata, "Eh, koq dokternya nakal, ya". sambil tertawa, terkadang membalas dengan cubitan ke pipi atau lenganku, yang selalu kuhindari. Memang mulanya aku tak sengaja tapi sepertinya asyik juga menyenggol payudara mereka, maka hal itu menjadi kebiasaanku, setiap kali permainan itu. Terasa sekali payudara mereka kenyal dan empuk, setelah aku besar baru aku menyadari bahwa saat itu mereka pasti tak memakai beha, karena tak terasa ada sesuatu yang menghalangi sentuhan jariku pada daging montok itu kecuali lapisan baju mereka. Setiap kali tanganku menyentuh meremas atau menowel bukit empuk itu, aku merasakan ada getaran aneh terutama di sekitar kemaluanku, tak jarang membuatnya menegang, walaupun waktu itu masih kecil dan belum sunat. Sering aku mengkhayalkan memegang payudara mereka bila sedang sendirian di kamarku sambil memegang burung kecilku, hingga tegang walaupun tak sampai mengeluarkan sperma, hanya cairan bening, seperti cairan lem uhu tapi tidak seperti lem lengketnya.

Siang itu setelah adikku tertidur kami kembali bermain dokter-dokteran dan hal itu kulakukan lagi. Untuk diperiksa kuminta Tante Murni untuk berbaring di lantai, dia menurut saja. Yang pertama kuperiksa adalah dahinya lalu aku langsung meletakkan stetoskopku di dadanya, namun aku sengaja memposisikan tanganku sedemikian rupa sehingga tanganku berhasil menempel di dada Tante Murni, kurasakan empuk sekali dan seiring dengan napasnya, tangankupun ikut naik turun pelan-pelan. Tante Murni hanya tertawa saja, sementara Mbak Suli memperhatikan sambil tertawa, rupanya mereka geli atas kekurangajaranku ini, sepertinya Tante Murni keenakan dengan tingkahku ini, tanganku tak hanya memeriksa di satu tempat tetapi terus bergeser, dan aku tak pernah mengangkat tanganku dari gundukan kenyal itu.

Sampai tiba-tiba Tante Murni memegang tanganku dan menggosok-gosokannya di dadanya. Aku merasa senang sekali, apalagi Tante Murni juga tiba-tiba merangkul dan menciumiku dengan gemas, tapi ya cuma .begitu saja. Karena selanjutnya Mbak Suli yang minta diperiksa, Mbak Suli malahan lebih gila lagi, dia sengaja membuka kancing blus-nya sehingga aku bisa melihat gundukan daging yang putih itu. Tanganku gemetar ketika meletakkan stetoskop plastikku di tepi gundukan dadanya, apalagi ketika dengan suara nyaring Mbak Suli berkata, "Mas.. (dia biasa memanggilku Mas seperti adik adikku, begitu juga Tante Murni), dingin stetoskopmu!". Tanpa mempedulikan ucapannya, stetoskopku terus bergeser sehingga tersingkaplah bajunya dan mataku terbelalak melihat puting susunya yang kecil dan berwarna coklat muda itu.

Saat itulah Mbak Suli menepis tanganku sambil tertawa, "Sudah sudah, geli!". Mereka berdua langsung berdiri dan meninggalkanku sambil berbisik-bisik, aku merengek agar mereka tetap menemaniku bermain, tetapi mereka terus keluar sambil tertawa. Aku merasakan kalau penisku kaku sekali dan juga celanaku jadi basah, entah mengapa aku jadi penasaran sekali dengan semua ini, aku bertekad kalau besok main dokter-dokteran lagi, akan aku singkap baju Tante Murni atau Mbak Suli biar aku bisa melihat lebih jelas puting susu yang menonjol bulat itu.

Malamnya sebelum tidur aku kembali membayangkan kejadian siang itu, kurasakan penis kecilku meregang sehingga kubuka celana pendekku dan kukeluarkan penisku yang sudah tegak ke atas itu. Kupegang dan kuremas pelan-pelan, sambil memejamkan mata kubayangkan kekenyalan dada Tante Murni, puting susu Mbak Suli, terasa nikmat sekali melamun sambil merasakan sesuatu yang gatal dan nikmat di sekitar penisku itu. "Hayo., lagi ngapain!, Aku jadi kaget dan terlonjak serta membuka mataku. Di depanku kulihat Tante Murni sambil tersenyum memandang bagian bawah tubuhku yang terbuka itu. Mukaku terasa panas, mungkin merah padam mukaku, sambil membetulkan celana yang hanya kupelorotkan sampai dengkul aku segera memeluk guling tanpa berkata apa apa lagi dan membelakangi tanteku.

Sambil terus tertawa tanteku ikut naik ke ranjangku dan memelukku dari belakang dan menciumku sambil berbisik, "Nggak apa apa Mas.". Jantungku deg-deg, apalagi ketika dengan lembut tanteku membelai rambutku terus tubuhku sambil berbisi, "Ehh, jangan malu, kamu senang ya pegangin burung, sini tante pegangin". Mulanya aku ragu, takut kalau tanteku hanya memancing reaksiku saja, tetapi ketika rabaannya turun ke arah selangkanganku aku jadi berubah senang. Kuberanikan diri untuk menolehnya dan kudapati wajah tanteku yang tersenyum manis sekali membuat hatiku berbunga bunga. Burungku yang tadinya sudah mengecil itu mendadak meregang lagi dan mendesak celanaku.

Tanteku kemudian menciumi wajahku dengan kasih sayang, tangannya mulai meraba lagi bagian sensitifku dari bagian luar celanaku, aku yakin tanteku bisa merasakan penisku yang meregang dan keras itu, elusan tanteku terasa kurang nikmat, aku berpikir seandainya tanteku memegang langsung burungku, tentu lebih nikmat. Belum habis aku berpikir, tiba-tiba saja Tante Murni memelorotkan celana pendekku sampai terlepas, sehingga burungku yang sudah tegang itu bebas mengacung diudara terbuka. Dengan kelima jarinya tanteku menggenggam burungku dan meremasnya pelan. Aku merasa gatal dan geli serta nikmat yang tak kumengerti tapi membuat aku merasa seperti melayang dan menggeliat serta merintih pelan.

Dengan memandang tajam mataku, remasan jari lentik Tante Murni di burungku menjadi semakin cepat bahkan juga dikocoknya naik turun kadang-kadang juga dielusnya buah pelirku. Aku semakin meringis merasakan kenikmatan ini, secara naluriah aku berusaha merangkul tanteku agar rasa geli itu makin terasa nikmat. Aku juga berusaha menempelkan wajahku ke wajah Tante Murni yang kulihat juga merah padam dan bibirnya gemetar, nafas Tante Murni semakin memburu dan dia makin merapatkan tubuhnya ke tubuh kecilku, tanganku diraihnya lalu dituntun ke dadanya yang montok dan kenyal itu.

Tanganku terasa menempel di puting susu Tante Murni yang terasa keras seperti kelereng itu, aku meremasnya dengan agak sulit, karena telapak tanganku yang kecil itu tak bisa meremas keseluruhan permukaan dada Tante Murni yang lebar dan keras itu Kuperhatikan tanteku saat itu mengenakan daster kaos yang tipis tanpa mengenakan apa apa lagi dibaliknya. Merasa kurang puas hanya meremas dari luar, akupun menyelusupkan tanganku ke lubang tangan daster Tante Murni sehingga tanganku secara langsung bersentuhan dengan dada yang telah lama aku kangeni itu, hangat dan licin sekali. Kalau tadinya tanteku yang asyik meremas-remas burungku, sekarang justru aku yang beringas meremas-remas payudara tanteku bahkan tanganku yang lain juga ikut ikutan meremas payudara Tante Murni yang satunya. Tante Murni hanya memejamkan matanya rapat rapat sambil menggigit bibirnya.

Aku tak mempedulikan apapun sikap Tante Murni, bagiku kesempatan emas ini harus benar-benar dinikmati dan peduli dengan tanteku. Tanganku bukan hanya meremas, tetapi juga memelintir puting susu tanteku yang kecil dan keras itu, lucu sekali melihat kedua tanganku menelinap dan bergerak-gerak di dalam daster tanteku. Kurasakan tangan tanteku sudah tak mengocok penisku, tetapi hanya kadang kadang saja dia meremasnya dengan keras membuat aku kesakitan. Dari luar dadanya yang berdaster mulutku ikut ikutan menciumi dada tanteku itu, rasanya bila memungkinkan aku ingin memanfaatkan seluruh tubuhku untuk menikmati kekenyalan dada Tante Murni ini.

Tak kusadari nafas tanteku makin lama makin memburu, rupanya dia juga sangat menikmati kekasaran tanganku ini. Tiba-tiba saja Tante Murni mengangkat dasternya sehingga dadanya tersibak, baru saat itu aku bisa melihat kemontokan payudara tanteku ini, tanganku hanya dapat menutupi sebagian ujung atas payudaranya, sedangkan bagian yang lain masih belum tersentuh oleh remasanku. Dada yang montok itu dipenuhi oleh barut-barut merah bekas remasanku. Setelah dadanya terbuka dengan gemetar Tante Murni berbisik, " Mas, isep pentilnya pelan-pelan ya". Tak perlu diperintah dua kali, aku segera melumat puting susu tanteku dan mengenyotnya sekuatku, Tante Murni mendesis desis dan menekan kepalaku kuat kuat kedadanya, aku memeluk pinggangnya dan kutindih badan Tante  Murni dengan tubuhku yang telanjang bawah itu. Terasa burungku yang kaku itu menghunjam di tubuh mulus tanteku yang hanya dilapisi celana dalam itu. Tanteku makin kencang memeluk tubuhku, bahkan ia menyuruh aku untuk menjilati juga putingnya. Kulakukan semua itu dengan penuh semangat, entah apa pengaruh kepatuhanku ini pada Tante Murni, yang jelas aku sangat menikmatinya, penisku yang menggeser-geser diperut Tante Murni terasa mengeluarkan cairan yang membasahi perut Tante Murni. Saat itu Tante Murni sudah tak mempedulikan penisku lagi, dia asyik menikmati kepatuhanku itu.

Mungkin karena sudah tak tahan dengan semua itu, tiba-tiba saja Tante Murni juga melepaskan celana dalamnya. Selama ini aku hanya bernafsu pada buah dadanya saja, aku tak pernah berpikiran lebih dari itu. Ketika dengan berbisik ia menyuruhku memindahkan ciumanku, aku agak bingung juga. " Mas, ayo sekarang ciumi selangkangan Mbak ya, nanti punya kamu juga Mbak ciumi". Aku menghentikan kesibukanku di dada Tante Murni dan memandang ke selangkangannya. Aku takjub sekali melihat selangkangan Tante Murni itu karena ada rambut keriting yang tumbuh di ujung selangkangannya yang cembung itu, ini adalah pemandangan yang sama sekali baru bagiku, selama ini aku hanya pernah melihat selangkangan adikku yang aku tahu tak ada burungnya seperti aku. Namun selangkangan wanita yang berbulu, ya baru kepunyaan Tante Murni ini!

 FOTO LENGKAP KLIK

Cerita 17+ Pengalamanku Dengan Lisa



Lisa, 20 tahun, adalah mahasiswi baru pada suatu perguruan
tinggi. Kami kenal karena sering bertemu didalam perpustakaan,
Suatu hari saya mengantar dia pulang setelah selesai
berolahraga.Suatu ketika di tempat kostnya, kami langsung
berciuman dengan nafsunya. Kemudian kami berbaring ditempat
tidur dan mulai melepaskan satu demi satu seluruh busana kami
.. sampai tidak tersisa sehelai benangpun! dan kami mulai
berbaringan diatas tempat tidurnya, saya menyentuh dan
merasakan hampir seluruh bagian tubuhnya, dan saya ingin tahu
bagaimana reaksinya terhadap sentuhan pada vagina seperti yang
pernah saya lakukan terhadap Donna dan Sally.

Pada tahap ini saya berharap untuk membuat Lisa berhasil
mendapatkan orgasme ejakulasi, karena saya belum begitu
mengenalnya dan selama pembicaraan menunjukkan bahwa dia belum
mengetahui konsep permainan saya. Tetapi saya ingin tahu apa
yang terjadi bila saya sentuh dia seperti yang lainnya.
Akankan dia merasa senang walaupun tidak mengalami orgasme?
Saya sangat menikmati apa yang sedang kami lakukan bersama,
tetapi saya pikir dia bukanlah wanita yang secara psikologis
mampu mendapatkan ejakulasi.

Sambil saya memegang lebih dekat dan membelai bagian vagina
dalamnya dengan lembut, reaksinya sangat mengagetkan saya
karena mirip dengan reaksi wanita2 terdahulu. Lisa menikmati
apa yang saya lakukan, dan reaksinya jelas memperlihatkan kalu
dia mersakan kenikmatan. Dia memeluk lebih erat dan
dikedalaman vaginanya kelihatan menjadi lebih lembut dan lebih
basah. Dan kemudian dia memeluk lebih dekat lagi seiring
otot-otot didalam vaginanya mengembang.. saya memutuskan untuk
terus melihat apa yang akan terjadi.

Walaupun saya tidak mengharapkan mendapatkan ejakulasi, saya
masih mersaa perlu untuk meyakinkan dia bahwa itu tidak
apa-apa. Sementara rangasangan seksualnya sangat jelas
kelihatan dan dramatis intensitasnya, saya merasa bahwa dia
kurang mengenal rasa kenikmatan yang baru ini. Tetapi saya
terus menyentuhnya dan meyakinkan dia, desakan Gairah pada
diri Lisa semakin besar dan besar.

Dan selain sekedar merintih, dia mulai berteriak. Kemudian
yang mengagetkan, gadis manis yang bicaranya lemah lembut ini,
mulai berteriak sangat kuat.

"Akhhh! Akh! Ohh... Akhhhhhhhhh!"

Saya memegangnya lebih dekat dan berkata "Lepaskan semuanya."

Saya tahu dia tidak tahhu persis apa yang akan dilepaskan,
tetapi jelas kelihatan bahwa dia tahu sesuatu yang sama sekali
baru akan terjadi padanya. Dia berteriak dengan kombinasi yang
sangat aneh.

"Oh tidak! Ya! Oh,tidak! Ya!"

"Ya atau tidak?" desak saya. "Ya atau tidak?"

Vaginanya benar-benar mulai terendam. Jari saya dipenuhi oleh
suatu cairan yang tidak kental, sewaktu dia mulai berteriak,
"YA! YA! YA"

Dalam beberapa detik seluruh pinggulnya.. mengejang keluar dan
kedalam.. sewaktu cairan panas melayang keluar. Ini berlanjut
dalam beberapa menit dan keluar lagi berkali-kali.. sampai
pada akhirnya.. dia memohon untuk menghentikan kenakalan
jari-jari tangan saya.. "Sudah mas.. sudah.. saya bisa pingsan
kalau masih diteruskan.. saya sudah lemass sekali" pintanya.
Kemudian saya mengeluarkan jari saya dan memeluknya, Lisa
memberi ciuman termanis yang pernah saya rasakan.

"Kamu tahu, aku belum pernah merasakan seperti tadi," katanya.


"Jadi kamu belum pernah mengalami keluar cairan ketika kamu
orgasme?" Dia kelihatan bingung, dia menatap saya beberapa
saat dan berkata, "Apa maksudmu?"

"Tidakkah kamu merasakan kenikmatan yang luar biasa saat
cairan itu keluar?"

"Yah," katanya. "Tentu saja."

"Jadi apa yang tidak kamu mengerti?"

"Tidakkah semua orgasme seperti itu?" Lisal bertanya. "Apakah
rasanya selalu seperti itu?, Aku belum tahu." katanya. "Itu
adalah orgasme yang pertama yang saya alami."

Saya diam sejenak, "Apakah kamu belum pernah mengalami orgasme
sebelumnya.. dan kamu pikir semua orgasme seperti itu?"

"Bukankan begitu?" Lisa bertanya.

"Tidak," jawab saya. "Bahkan tidak mendekati itu"

dan akhirnya kembali memberikan senyumannya yang sangat manis
itu kepada saya, dan saya pun menikmatinya, malam itu kami
lewati dengan penuh perasaan dan cinta kasih yang meluap-luap


 FOTO LENGKAP KLIK

Cerita 17+ Nikmatnya meiki Desi


Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan hubungan seksual. Kebetulan pula wanita itu juga baru pertama kali melakukannya. Dia adalah pacar saya. Sebutlah namanya Desi. Memang dia sudah beberapa kali saya ajak ke rumah saya. Tapi setiap kali ke rumah, kami hanya sekedar tiduran dan paling jauh cuma ciuman saja.

Ceritanya bermula ketika untuk kesekian kalinya dia saya ajak main ke rumah. Awalnya seperti biasanya kami cuma cium-ciuman saja. Cium pipi, cium bibir, hal biasa kami lakukan. Entah setan apa yang lewat di benak kami. Tangan kami mulai berani meraba-raba bagian lain, sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh dua insan yang belum menikah. Ketika tangan saya meraba payudaranya (kami masih berpakaian lengkap), dia sama sekali tidak menolak. Ini membuat saya sedikit lebih berani untuk meremas payudaranya sedikit lebih keras. Ternyata dia menikmatinya. Saya mencoba untuk melakukannya lebih jauh lagi. Kali ini tangan saya perlahan-lahan saya arahkan ke bagian selangkangannya. Dia masih tidak menolak. Saat itu dia memakai celana panjang dari kain yang tipis, jadi saya bisa merasakan lembutnya bibir kemaluannya. Tanpa saya sadari tangannya juga telah mengelus-elus selangkangan saya. Mungkin karena pikiran saya terlalu tegang, sampai-sampai saya kurang memperhatikannya. Kurang masuk akal memang. Tapi itulah yang terjadi. Kepasrahannya semakin melambungkan kekurangajaran saya. Tangan saya mulai menyelinap ke balik pakaiannya. Saya kembali meremas-remas payudaranya. Kali ini langsung menyentuh permukaan kulitnya. Saya lakukan sambil mencium lehernya dengan lembut. Suara desahan lembut mulai terdengar dari bibirnya, di saat saya menyelipkan tangan saya ke balik celana dalamnya. Ada sedikit rasa ragu ketika meraba bibir kemaluannya secara langsung. Saya kumpulkan segenap keberanian saya yang tersisa. Jari tengah saya, saya tekan sedikit demi sedikit dan perlahan ke belahan kemaluannya. Saat itulah dia tersentak dan menahan tangan saya. Dia menatap mata saya.

"Jangan dimasukkan ya Mas", katanya.
Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Serta merta dia mencium bibir saya. Sementara jari saya masih mengelus-elus bibir kemaluannya. Lendir yang membasahi dinding vaginanya, mulai merembes hingga ke bibir kemaluannya. Saya mencoba memintanya untuk menyentuh dan memegang kemaluan saya. Ternyata dia tidak menolak. Terlihat jelas di raut mukanya, dia sedikit gugup ketika membuka rensleting celana saya. Dan seakan malu memandang wajah saya ketika dia mulai menggenggam kemaluan saya. Untuk mengurangi ketegangannya saya mencium bibirnya. Selama lebih dari setengah jam kami hanya berani melakukan itu-itu saja. Kemudian saya beranikan diri untuk mengajaknya menanggalkan semua pakaian. Dia terlihat ragu, dan hanya menunduk. Mungkin dia ingin menolak tapi takut membuat saya kecewa.
"Kamu bener berani tanggung jawab", katanya lagi.
Saya terdiam sejenak dan kemudian mengangguk. Padahal dalam hati, saya bertanya-tanya, benarkah saya mampu bertanggungjawab? Dia menanyakannya sekali lagi. Dan saya mengiyakannya untuk kedua kalinya. Diapun mulai melepaskan kancing bajunya. Ketika saya membantunya, dia menolak.

"Biar Saya sendiri saja..., Kamu lepas bajumu.", sahutnya.
Saya menurut saja. Dan tak lama kemudian, tak ada selembar benangpun pada tubuh kami. Telanjang bulat, walaupun dia masih menutupi payudaranya dengan tangan dan menyilangkan pahanya untuk menutupi kemaluannya. Saya memeluknya sambil berusaha menurunkan tangannya. Dia menurut, saat saya kembali meremas payudaranya dengan lembut. Kali ini tanpa diminta dia mau memegang kemaluan saya sambil mengelus-elusnya. Entah karena terangsang atau karena saya mengatakan mau bertanggung jawab tadi, dia menuntun tangan saya untuk mengelus selangkangannya. Agar dia tidak merasa malu, saya terus mencumbunya. Dia menikmatinya sambil menekan jari saya ke bibir kemaluannya, yang saya rasakan semakin basah oleh lendir. Dia kemudian merebahkan tubuhnya. Dan saya pun merebahkan tubuh saya di atas tubuhnya. Kami kembali bercumbu. Kali ini sedikit lebih liar. Suara desahan terdengar lebih nyaring daripada sebelumnya, ketika saya mencubit clitorisnya. Ketika saya sudah tidak tahan lagi, saya mencoba "minta ijin" padanya untuk berbuat lebih jauh. Dia mengangguk sambil sedikit meregangkan belahan pahanya.

Setelah "mendapatkan ijin", saya mencoba memasukkan kemaluan saya ke liang vaginanya. Tapi sulitnya luar biasa. Berkali-kali saya coba, tetapi belahan itu seakan-akan direkatkan oleh lem yang kuat. Ujung kemaluan saya sampai sakit rasanya. Dan dia pun meringis kesakitan, sambil sesekali memekik kecil, "Aduh..., aduh". Saya sedikit tidak tega juga. Saya hentikan sejenak usaha saya itu, sambil kembali mengelus bibir kemaluannya, agar sakitnya sedikit berkurang.
"Masih sakit?", tanya saya.
"Udah nggak begitu sakit", jawabnya.
Saya mencobanya lagi. Kali ini saya minta dia membuka bibir vaginanya lebih lebar. Tetapi masih susah juga. Padahal kata teman-teman saya yang sudah sering berhubungan seks, kalau sudah basah pasti gampang. Kenyataannya ujung kemaluan saya sampai sakit gara-gara saya paksa masuk. Saya hampir putus asa. Kemaluan saya mulai lemas lagi karena saya menjadi kurang konsentrasi.

Tiba-tiba saya teringat bahwa saya pernah baca di majalah, ada jenis selaput dara yang sangat elastis dan relatif lebih tebal daripada yang normal. Kepercayaan diri saya mulai timbul lagi. Saya "mengusulkan" padanya, pakai jari saja dulu. Maksud saya supaya agak lebar lubangnya. Dia setuju saja. Walaupun saya sadar selaput dara itu justru akan robek karena jari saya, bukan karena kemaluan saya, cara itu tetap saya lakukan. Dari pada kami (terutama dia) kesakitan, lebih baik begini. Mulanya saya hanya menggunakan jari kelingking. Dia hanya mendesah sambil menggigit bibirnya. Kemudian saya lakukan dengan jari tengah, sambil menggerakkannya naik turun. Dia masih hanya mendesah. Kemudian saya masukkan jari tengah dan telunjuk ke liang vaginanya. Dia menjerit halus sambil menahan tangan saya agar tidak masuk lebih dalam. Setelah dia melepaskan tangannya baru saya lanjutkan lagi dengan sangat perlahan.

Setelah yakin sudah cukup, saya mencoba kembali memasukkan kemaluan saya ke liang vaginanya. Saya menyibakkan bibir vaginanya, sementara dia mengarahkan kemaluan saya. Memang sedikit lebih mudah sekarang. Tapi tetap saja dia merintih kesakitan. Sayapun masih merasakan sakit. Kemaluan saya seperti diperas dengan sangat keras. Setiap kali merasakan sakit (dan mungkin perih), dia menahan "laju" masuknya kemaluan saya. Sayapun hanya berani melakukannya dengan gerakan perlahan. Hati saya benar-benar tidak tega melihatnya merintih kesakitan. Tapi pada akhirnya kemaluan saya bisa masuk seluruhnya.

Saat pertama kali berhasil masuk, saya belum berani menariknya kembali. Kami hanya berciuman saja, supaya rasa sakit itu reda dahulu. Setelah itu baru saya berani menggerakkan pinggul saya maju mundur, tapi masih sangat pelan. Sementara tangannya tampak memegang erat ujung bantal, sambil terpejam dan mengigit bibirnya. Setelah beberapa lama, kami berganti posisi. Kali ini saya berada di bawah, sementara dia duduk di atas saya. Dia saya minta menggerakan pinggulnya naik turun. Dia hanya beberapa kali melakukannya. Dan berkata, "Aku nggak bisa", sambil berguling ke samping saya. Saya memeluknya dan mengelus rambutnya serta mencium keningnya. Kemudian kembali merapatkan tubuh saya ke atas tubuhnya. Saya memasukkan kembali kemaluan saya ke liang vaginanya. Kali ini gampang sekali. Di dorong sedikit langsung bisa masuk. Dan dia pun tidak lagi merintih kesakitan. Hanya mendesah halus. Saya kembali menggerakkan pinggul saya maju mundur. Saya coba lebih cepat. Rasanya licin sekali. Saya merasakan diantara kemaluan kami sangat basah oleh lendir bercampur keringat. Saya terus melakukannya sambil mencium bibirnya. Kali ini dia lebih erotis. Dia sangat suka menghisap-hisap lidah saya, yang sengaja saya julurkan ke dalam mulutnya. Sementara tangannya tak henti-hentinya mengelus punggung dan pantat saya. Sesekali saya jilati puting susunya dengan lidah saya. Namun dia lebih suka kalau saya menghisap putingnya itu. Sebenarnya saat itu saya kurang berkonsentrasi. Pikiran saya masih terbagi. Saya masih berpikir agar tidak membuat dia kesakitan. Mungkin karena itu saya bisa bertahan agak lama. Kalau tidak mungkin saya sudah mengalami ejakulasi.

Setelah cukup lama, tiba-tiba dia menyentakkan pinggulnya ke atas sambil menekan pantat saya. Saya tidak tahu apakah saat itu dia mengalami orgasme atau tidak. Tapi yang jelas dia menahan posisi itu cukup lama. Setelah itu dia bilang bahwa dia capek. Saya pun mengerti, dan walaupun belum mengalami ejakulasi, saya mengeluarkan kemaluan saya dari liang vaginanya, dan tidur telentang di sampingnya. Sekilas saya lihat, di bibir kemaluannya ada lendir putih yang ketika saya pegang terasa kental dan lengket, namun tidak kesat seperti halnya sperma.
Sepertinya dia tahu kalau saya belum puas (yah namanya juga kurang konsentrasi). Dia duduk di sebelah saya sambil kemudian menggenggam kemaluan saya. Perlahan-lahan dia menggerakan tangannya naik turun. Saya sangat menikmati perlakuannya ini. Payudaranya kembali saya elus-elus. Sesekali saya permainkan putingnya dengan jari. Kali ini saya tidak bisa bertahan lama. Ketika gerakan tangannya semakin cepat, saya merasakan geli yang luar biasa di ujung kemaluan saya. Dan saya pun akhirnya mengalami ejakulasi. Dia menampung sperma saya dengan telapak tangannya. Kemudian membersihkan sisanya dengan tissue. Setelah mencuci tangan serta kemaluannya, dia kembali ke kamar dan mencium saya. Dia kemudian merebahkan kepalanya di dada saya. Sementara saya mengelus-elus rambutnya.
Saat membenahi kamar sebelum mengantarnya pulang, pandangan saya tertuju pada bekas tissue yang sebagian juga digunakan untuk membersihkan sisa lendir kemaluannya. Terlihat bercak-bercak merah pada beberapa lembar tissue, tetapi tidak banyak.
Saya memandangnya dan bertanya, "Masih berdarah nggak?".
Dia menggeleng, dan menjawab, "Sudah nggak lagi, tadi sudah aku cuci".

Setelah itu saya mengantar dia pulang. Kalau tidak salah waktu itu sudah sekitar jam sembilan malam. Saat perjalanan kembali pulang, saya berpikir. Dia sudah mengorbankan miliknya yang paling berharga kepada saya. Dia berkorban karena dia percaya pada saya. Belum pernah dalam hidup saya, ada orang yang begitu percayanya pada saya. Bahkan jauh melebihi kepercayaan orang tua saya, yang lebih sering memberikan uang belaka daripada sebuah kepercayaan yang tulus. Kepercayaan yang diberikannya adalah pemberian yang tak ternilai harganya. Saya berharap kebersamaan kami dapat terjalin selamanya.


 FOTO LENGKAP KLIK

Cerita 17+ - Nimatnya Istri Teman



Hari minggu itu aku (Jeje, 27 tahun) udah janjian ma temenku yang bernama Novan (27 tahun) mau jalan ke rumah temen-temenku semasa kuliah dulu. Novan adalah salah satu temen kuliahku dulu, dan kini udah berkeluarga sementara aku masih bujangan. Tapi sejak setaun pernikahaannya dengan Shanti (23 tahun) masih belum juga punya momongan. Shanti adalah adik tingkat kami semasa kuliah dulu.

Novan saat ini tinggal di rumah mertuanya (keluarga Shanti) di sebuah ibukota propinsi. Makanya sore itu aku jemput dia di rumah Shanti. Tapi setibanya di situ, Shanti bilang kalau Novan baru saja pergi nganter ibu dan bapak mertuanya ke rumah saudaranya untuk sebuah keperluan. Shanti sendiri nggak ikut lantaran sore itu dia ngedadak agak meriang.

"Tunggu aja dulu deh, Je," kata Shanti padaku. Karena udah terbiasa main ke rumahnya, akupun langsung aja nyelonong masuk ke ruang tv. "Kamu sendirian aja nich Shan di rumah. Mana pembokat lu?" tanyaku sambil langsung rebahan di karpet biru di depan tv. "He-eh nich, tadinya aku mo ikut ma Mama. Tapi nggak tau kenapa tiba-tiba meriang gini. Si Ani (pembokatnya) lagi pulang kampung tuh," ujar Shanti sambil bawain aku minuman hangat.

"Lu masuk angin ya Shan?" tanyaku sambil nyeruput segelas teh hangat yang disediain Shanti. "Minum obat dong Shan," kataku lagi sambil ngeliat ke arah Shanti yang duduk bersila di atas kursi, sementara aku masih rebahan di karpet. "Atau dikerokin tuh, biar anginnya pada mabur," ujarku bercanda.

"Maunya sih, tapi si Ani-nya lagi nggak ada nich," kata Shanti. "Suami lu dong suruh ngerokin" kataku lagi. "Huu boro-boro mau ngerokin, suruh mijatin ajapun males-malesan," ujar dia. "Gua yang ngerokin mau nggak?" kataku bercanda. "Mau sih, tapi malu ah," Shanti tertawa geli. "Ngapain mesti malu ama gua, gua kan temen suami lu." kataku sambil nggak yakin kalau Shanti bener-bener mau kukerokin. "Nggak ah, nggak mau dikerokin. Pijitin aja deh Je kalau lu mau. Ntar gua bingung ditanya Novan siapa yang ngerokin." pinta Shanti sambil terkekeh.

Aku langsung nyuruh dia duduk di lantai nyandar ke kursi. Sementara aku duduk di kursi tepat di belakang punggungnya. Shanti dan aku nggak ada perasaan apa-apa, makanya dia mau aku yang mijatin. Sambil ngobrol kesana-kemari, aku terus mijatin pundak ma leher bagian belakang Shanti. "Ke bawah dikit dong Je. Ke punggungnya." pintanya sambil ngegeser duduknya agak maju. Aku nurut aja, sambil terus mijatin dia yang sambil nonton tv.

"Lu lepasin tali BH-nya dong, ngehalangin nih," kataku. Shanti langsung ngelepas BHnya dan ngeletakin begitu aja di sampingnya. Aku mulai mikir yang ngeres-ngeres ngeliat BH Shanti segede gitu. Aku ngebayangin berarti gede juga isi BH itu. "Aku sambil tiduran ya Je." pintanya sambil terus telungkup di atas karpet di depan tv. Aku pun turun dan duduk disamping tubuhnya. Aku mulai mandangian pantatnya yang gempol, lalu turun ke bagian pahanya yang terlihat putih karena Shanti waktu itu cuma pake celana pendek doang.

Tanganku mulai kupermainkan agak nakal sedikit, sambil berharap ngeliat reaksi Shanti. Persis di dipunggung dibelakang bagian toketnya, aku mulai sedikit nakal memainkan jari-jariku. Kuturunkan sedikit jari-jariku supaya meraba sedikit saja bagian toketnya. "Geli ih Je," ujarnya tapi diam saja. "Kena ya? Sorry deh Shan" ujarku pura-pura kaget. Shanti diem aja dengar jawabanku itu.

"Shan, buka aja deh kaosnya," pintaku. "Nggak ah, ntar Novan dateng gimana?" tanyanya ragu. "Ya cepet-cepet di pake lagi dong ntar." jawabku singkat. Agak sedikit malu kulihat wajah Shanti ketika dia duduk sebentar dan membuka kaosnya dan cepat-cepat telungkup lagi. Pikiranku saat itu bener-bener ngeres banget. Ingin rasanya aku memeluk Shanti dan merasakan hangatnya tubuh istri temenku itu. Tapi aku malu.

Dengan sedikit ragu, aku mulai memberanikan diri untuk meremas bagian pinggir-pinggir toket Shanti dari belakang. Shanti terlihat agak kaget melihat kenekatanku, tapi dia diam saja. Malah sedikit-sedikit Shanti membiarkan jari-jariku nyelusup makin meremas toketnya itu. "Geli Jee,,," Shanti agak mengerang. "Sorry ya Shan, aku bener-bener nggak tahan pengen megangin tetek kamu," kataku aga gemetar. "Nggak apa-apa kan Shan, Sorry ya," kataku semakin gemeteran. Shanti begitu mendengar pertanyaanku itu, tanpa kusangka menggeleng pelan.

Birahiku yang semakin meningkat, tak mampu lagi aku tahan. Kuraih tubuh Shanti agar sama-sama duduk dan kubalikan badannya agar menghadapku. Cepat-cepat aku tempelkan bibirku ke bibir Shanti. Shanti yang masih keliahatan kaget melihat kenekatanku, terdiam dan mulai bereaksi dengan membalas ciumanku.

Seperti orang kesurupan, kami yang sama-sama sedang nafsu dengan cepat saling menjilat bibir kami masing-masing. Tanganku pun dengan cepat meremas toket Shanti sementara tangan Shanti terus mengusap-ngusap bagian punggungku yang kini sudah telanjang dada. Kuraih tubuh Shanti agar berdiri. Dan dengan satu tanganku, ku tarik celana pendek Shanti agar melorot ke bawah. Shanti tak diam ketika tanganku sudah menarik celana pendeknya termasuk CD-nya juga. Dia dengan gugupnya membuka kancing celana jeanku dan menarik turun resleting celanaku. Aku membantunya dengan menurunkan sendiri celana dalam dan jeanku hingga kami sama-sama telanjang saling berpelukan dalam posisi masing-masing berdiri.

"Masukin ya Shan," pintaku ketika tangan Shanti dengan ganasnya meremas-remas kontolku yang sudah sangat tegang itu. Shanti hanya mengangguk pelan ketika kontolku kuarahkan kebagian selangkangan Shanti yang sudah sangat basah itu.

"Shhhh,,,, ahhh.." Shanti mengerang. "Ahhhh,,, cepetan Je, ntar Novan keburu dateng,,," katanya sambil terus merenggangkan selangkangannya. "Ahhhhh,,, Shannnn...." kataku tak tahan merasakan kocokan tangan Shanti di kontolku. Dengan posisi terus berdiri, kontolku kini sudah tepat di depan memek Shanti yang basah. Pelan-pelan kumasukan dengan bimbingan tangan Shanti. "Pelan-pelan Je,, ahhhh,,,,ahhhhh,,, Jeeee......." Shanti mengerang sambil memelukku erat sekali ketika kontolku mulai menancap ke dalam vagina itu.

"Shaaaan,,,,, ahhhh,,,, ahhhh,,,,," erangku merasakan nikmatnya menyetubuhi istri temanku itu. "Cepat Jeeee,,, cepetin lagi keluar-masukinnya Jeeee,,,,,," Shanti merengek seperti seorang bayi yang minta cepat-cepat disusui oleh ibunya. "Iya Shaaaan,,, segini enak Shaann,,," tanyaku sambil kuisapi lidah Shanti yang menjulur-julur keluar dari mulutnya. Shanti hanya menganggung mengiyakan pertanyaanku.

"Jeeee,,,, aku pengen keluar Jeee,,,, lebih cepet lagi Jeeee,,,," pinta Shanti sambil tubuhnya menggelinjang kekiri-kekanan. Aku yang sebenernya juga sudah pengen keluar, semakin mempercepat kocokan kontolku keluar-masuk memek Shanti yang seluruh tubuhnya sudah kelihatan menegang hebat sekali.

"Aaauuuu,,,,, Jeeee,,,, aku keluar Jeee,,,,," Shanti meregang sambil menggigit pundakku. "Aku juga Shaaaann,,,," kataku juga hampir bersamaan. Kupeluk tubuh Shanti yang kelihatan sangat kecapaian, Shanti tersenyum ketika keningnya aku cium. "Makacih ya Je,,," bisiknya sambil senyum-senyum. "Iya, makasih juga Shan,,," kataku sambil terus kupeluk dia.

Lama kami saling berpelukan masih dalam keadaan telanjang sambil duduk di depan tivi di atas karpet. Tiba-tiba Shanti meraih BH dan kaosnya. Dengan manjanya, dia minta dipakaikannya olehku. "Pakein dong Jee,, ntar keburu dateng suami gua lho." pintanya. Aku langsung memakaikan BH dan kaosnya sambil tanganku mencari-cari kesempatan untuk meremas toketnya yang sudah sedikit mengendur lagi. "Udah ah,,, besok-besok kan bisa lagi Je..."

Kini kami sudah saling memasang pakaian masing-masing, tapi kami sepertinya masih tak ingin terpisahkan. Kami masih saling berpelukan di atas kursi ketika suara mobil kijang yang dikemudikan Novan terdengar memasuki halaman. Shanti buru-buru bangkit dari pelukanku. "Novan dateng," bisiknya padaku. Sambil bangkit, dia sempat mencium pipiku sekali saja. "Besok-besok lagi ya Jee,,," katanya manja. Aku hanya mengangguk sambil merhatiin Shanti yang terus berlari ke arah pintu depan.

Aku masih duduk sambil nonton tv ketika si Novan menyapaku. "Yuk, langsung cabut Je. Anak-anak udah pada nunggu nih. Lu udah lama ya? Sorry brur aku nganter mertuaku dulu tadi," katanya tanpa kutanya. Shanti yang denger itu bilang "Iya tuh, si Jeje udah dari tadi nungguin lu Van. Buruan sana pergi, ntar keburu bubaran deh acaranya," kata Shanti sambil menggandeng tangan suaminya dengan mesra hingga ke pintu depan rumahnya

 FOTO LENGKAP KLIK

Kamis, 04 April 2013

Cerita Dewasa - Nikmatnya Ngeseks Dengan Pembantu



Namaku sebut saja Ryan, seorang mahasiswa sebuah PTS di kota S yang bertampang lumayan tampan dan suka dengan petualangan cinta dan seks. Aku punya pengalaman seks menarik yg ingin aku ceritakan. Waktu itu bulan juni-juli 2002 adalah saat liburan kuliah akupun yg selama kuliah indekost di kota S akhirnya pulang liburan di kota kelahiranku sekaligus kota kediaman kedua orang tuaku yaitu kota J. Oh ya aku adalah anak tunggal sebuah keluarga berada Ayahku seorang pengusaha sibuk sedangkan ibuku juga seorang wanita karier yg sibuk. 47E8CPAMXJ2P

Waktu pulang itu ternyata di rumahku ada seorang pembantu baru, namanya Lastri usianya 18 th ia rupanya mengantikan posisi pembantu sebelumnya yaitu mbok ijah 40 th yang diberhentikan oleh ibuku gara-gara kerjanya yg tidak benar. Lastri adalah gadis dari kampung, Ia hanya lulusan SD dan kerja menjadi pembantu di Kota untuk mencari nafkah dan membantu ekonomi keluarganya di kampung. Awalnya aku tidak terlalu memperdulikannya namun lama-lama aku perhatikan kalau Lastri lumayan cantik dan manis, kulitnya cukup bersih meski tidak semulus gadis-gadis cantik mahasiswi di kampusku.

Tinggi lastri kira-kira 1,65 m, rambut lurus hitam hingga ke punggung, bodynya lumayan dan yang paling aku suka adalah ukuran buah dadanya yg kuperhatikan lumayan besar dan montok. Karena mulai sering memperhatikannya dan mulai tertarik denganya aku yang sudah terbiasa dengan gaya hidup free seks dengan pacar-pacarku sebelumnya jadi punya rencana untuk bisa meniduri pembantuku itu.

Dan hari itu rencanaku akhirnya kesampaian juga. Hari itu kedua ortuku keluar kota mengurusi bisnis mereka masing-masing. Artinya saat itu rumah dalam keadan sepi karena hanya ada aku dan lastri yang ada di rumah. Siang itu setelah membuatkan aku minuman juss buah, aku mengajak ngobrol Lastri diruang keluarga, kebetulan saat itu pekerjaan lastri sudah tidak ada. Kami ngobrol sambil duduk melihat TV di atas hamparan karpet yg empuk. Aku menanyainya banyak hal mulai dari keadaan keluarganya di kampung dan lain sebagainya. Sambil ngobrol, aku yang sudah pengalaman menaklukkan hati cewek-cewek sejak SMU, terus menatap mata Lastri sewaktu ngobrol dan sesekali memuji kecantikan Lastri dan berkata mengapa gadis secantik dia mau menjadi pembantu.

Lama-lama lastri mulai masuk dalam perangkapku, Ia tersipu malu saat aku puji dan salah tingkah bila aku menatap tajam matanya. Aku berhasil mengakrabkan diri dengannya dan obrolan mengalir lancar lastri tidak sungkan lagi dan bisa aku ajak bercanda. Akupun mulai mengajaknya ngobrol soal pacar, menanyakan apakah ia pernah punya pacar atau apakah dia punya pacar di kampungnya. Saat dia berkata kalau di pernah sekali pacaran dan putus gara-gara pacarnya pergi ke malaysia sebagai TKI, aku menanyakan apa dia pernah ciuman dengan pacarnya itu apa belum. Dengan malu-malu dia mengaku pernah tapi cuma sekali dan itupun cuma cium pipi.

Lalu dengan kepercayaan diri yang tinggi aku mengeser dudukku hingga lebih dekat dengannya. Aku terus menatapnya dan kulihat Lastri salah tingkah. Lalu aku meraih dan menarik dagunya dan kudekatkan bibirku kebibirnya sambil membisikkan pujian tentang kecantikannya. saat itu seharusnya Lastri menyadari gelagat bahwa aku hendak menciumnya tapi dia diam saja membiarkan aku melakukannya. Akhirnya aku berhasil mengecup lembut bibir ranum pembantuku yg muda dan cantik itu. lastri diam saja tidak bereaksi saat aku mulai menggulum bibirnya. Namun saat tanganku mulai menjamah tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya dia mulai mulai berusaha menepisnya. "Jangan Mas Ryan.." katanya sambil berusaha meneepis tanganku yang mulai nakal menjamah dadanya. "Ayolah lastri, Ijinkan aku melakukannya aku sangat menyukaimu. bukankan kau juga suka padaku" bisikku sambil berusaha mencoba menciumi lehernya. "Mas Ryan jangan mas, nanti ketahuan nyonya saya bisa di pecat" katanya sambil mencoba mendorongku tapi tidak dengan sepenuh hati.

"Kamu tidak perlu takut, Ibuku pergi keluar kota dan baru pulang besok sedang Ayahku juga, Ayolah Lastri ini kesempatan kita" rayuku sambil terus berusaha mendaratkan ciumanku ke lehernya. Akhirnya lastri terbui rayuan dan ajakkanku. Aku memeluknya erat dan kulumat bibir ramunnya. Lastri yang semula pasif akhirnya mulai bereaksi membalas lumatan bibirku. puas melumat bibirnya ciumanku kualihkan ke lehernya dan terus turun. Dengan cekatan aku membuka bajunya dan BH-nya juga aku lepas. Kini bibir dan lidahku mulai bermain di dadanya. Hmm Payudara lastri ternyata benar-benar indah dan montok ukuran BH-nya kuperkirakan 36B dan punting susunya yang merah kecoklatan langsung aku lumat dan sesekali aku mainkan dengan lidahku yang basah. Lastri melenguh dan mengelinjang. Birahinya berhasil aku rangsang dan kini ia benar-benar ada dalam penguasaanku.

Tubuhnya lalu aku rebahkan diatas hamparan karpet hingga aku makin leluasa menikmati gunung kembar di dadanya. Tangan kananku tidak tinggal diam menyimkap roknya dan mengerayangi paha mulusnya hingga hingaplah di selangkangannya yg masih terbungkus celana dalam. Aku juga mulai melucuti pakaianku sendiri dengan tangan kiriku. Saat itu aku tidak mau mengulur-ulur waktu, aku langsung menarik celana dalamnya sementara roknya tidak aku lucuti hanya aku singkap keatas. saat itu akupun sudah telanjang bulat dan torpedo kebanggaanku sudah siap mendongak dengan gagahnya. Aku segra mengambil posisi diatas tubuh lastri yang telah aku telentangkan dengan kedua telapak kaiknya bertumpu di lantai karpet.

Aku membimbing kepala penisku dan mengarahkannya ke liang surga milik Lastri. "Mas saya takut..." rintih lastri saat kepala torpedoku telah ku tempelkan di bibir kewanitaanya yang berbulu halus itu. "Ngak usah takut ngak sakit kok " bisikku mesra sambil mengecupnya. Selanjutnya aku mulai mendorong pelorku agar memasuki liang kewanitaan lastri yang masih liat dan kencang. Kulihat Lastri mengigit bibirnya sambil mengerang. Setelah bersusah payah akhirnya torpedoku berhasil menerobos masuk liang surga lastri. saat itu rasanya nikmat sekali lalu aku mulai menarik dan mendorong kejantannanku menjelajahi memeknya lastri. Lastri mengelinjang, mengerang dan sesekali merintih kesakitan. Aku telah memerawaninya aku lihat ada percikan darah membasahi batang torpedoku dan di sekitar liang kewanitaannya.

"Ohhh...aduh mas ryan sakit oh.. sakit mas" rintih lastri saat aku makin bersemangat mengoyang pantatku maju mundur. Aku tahu kalau torpedoku yang ukuranya lumayan besar itu telah menyakiti kewanitaan lastri yang masih kencang dan sempit itu. "Tidak apa-apa nanti juga hilang sakitnya" bisikku sambil merem melek menikmati memeknya lastri yang serasa memijit dan meremas batang kejantananku. Sementara lastri merus merintih dan mengerang, Ia mengeleng kekanan dan ke kiri. Makin lama gerakan torpedoku makin lancar maju mundur menjelajahi liang surga lastri. Sementara rintihan Lastri mulai berubah menjadi lenguhan dan desahan, tanda kalau Dia mulai merasakan kenikmatan.

Lastri terus mengerang, Ia mengoyangkan pinggulnya menyambut sodokan torpedoku yang terus menghunjam kewanitaanya. Kami sama-sama berpacu mengumbah birahi yg semakin membuncah. Beberapa saat kemudian desahan dan erangan Lastri semakin menjadi-jadi, tubuhnya mengelinjang dan bergetar hebat lalu mengejang. Saat itu aku merasakan liang vaginanya jadi makin basah. Rupanya Lastri telah mencapai puncak.

Karena Lastri sudah orgasme Aku lalu menghentikan permainan. Ku cabut torpedoku dari liang kewanitaannya. Lalu aku memintaanya untuk melakukan oral seks. Awalnya Ia tidak tahu apa itu oral Seks. Setelah aku jelaskan barulah Dia tahu. Kemudian aku duduk di sofa sementara Lastri duduk dilantai dan berada tepat di depan selangkanganku. Rudalku yang masih gagah di pegangnya. Awalnya ia ragu-ragu untuk mengoral rudalku.

Akhirnya ia mau juga dan mulai menciumi pelorku dan akhirnya menjilatinya. Ahhh..rasanya nikmat sekali. Selanjutnya lastri memasukkan batang kemaluanku yg besar dan melengkung itu kedalam mulutnya. Ohh...kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. namun karena dia Ini adalah pengalaman pertamanya giginya beberapa kali mengenai kepala penisku. "Aduh Lastri.., jangan kena gigi dong..nanti lecet" Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku, melingkar kekiri dan kekanan. Aku mengerang dan kujambak rambutnya. Kemudian Ia mengocok Pelorku dengan mulutnya hingga kemaluanku maju mundur dalam mulutnya.

Tak berapa lama aku merasakan kalau rudalku terasa berdenyut-denyut dan makin menegang. Lastri kuminta mengocok pelorku lebih cepat. Aku mengelinjang, mengerang dan tubuhku seperti mengejang. Akhirnya air mani muncrat di dalam mulutnya hingga Lastri hampir tersedak. Air maniku yang lumayan banyak tumpah dari mulutnya dan sebagian membasahi wajahnya. "Mas Ryan kok di tumpahin di mulut Lastri maninya" tanya lastri setelah nyaris tersedak. "maaf lastri, habis aku ngak tahan lagi sih" kataku. Lastri lalu menjilati dan mengulum torpedoku yang berangsur-angur mengecil. Sementara aku membersihkan mani di wajahnya. Lastri lalu kucium mesra sebagai tanda terima kasih karena ia telah memuaskanku waktu itu.

Setelah istirahat sebentar aku mengajak Lastri kekamarku dan kami mengulanginya lagi. Kami kembali bercinta berulang kali sampai puas hingga kami sama-sama terkapar karena kehabisan tenaga.


 FOTO LENGKAP KLIK

Rabu, 03 April 2013

Cerita Seks - Mulusnya Pacar kakak


Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang
sana memanggil.

"Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari
pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih
sana."
"Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai
jam berapa?"
"Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah."

Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah
satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik
daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku
sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja,
kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor
saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi
pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.

Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa
pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di
kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina,
pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi,
aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu
menjemputnya terlebih dulu.

Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak
terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina,
untuk membuka pintu.

"Loh, enggak kerja?" tanyaku.
"Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor," jawabnya
sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door
lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
"Nyokap ke mana?" tanyaku lagi.
"Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan," kata
Marta, "Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton tv juga
boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah,
saya ambilin minum."

Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar
rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya
hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di
teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton tv bersama
Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.


Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku
celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke
ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata
mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki
menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya
putih menguning.

Marta memang sedang menonton tv di lantai dengan kaki
berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya
yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa
kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip
dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu,
setelah itu barulah ruang nonton tv. Kalau aku melongokkan
kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.

Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu,
biar hanya sepintas. Aku berdiri.

"Ta, ada koran enggak yah," kataku sambil berdiri memasuki
ruang tamu.
"Lihat aja di bawah meja," katanya sambil lalu.

Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat
paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua.
Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm
dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat
di tubuh dengan pasnya.

"Aku ingin dada itu," kataku membatin. Aku membayangkan Marta
dalam keadaan telanjang. Ah, 'adikku' bergerak melawan arah
gravitasi.

"Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina
lho!," Marta menghardik.

Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku
tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku
membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.

"Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!"
"Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka," kataku tergagap.
Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin
naik pitam.
"Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!" katanya
setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi
sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa
harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
"Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya
enggak bermaksud apa-apa," aku sedikit memohon.
"Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin
doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil
koran di bawah meja, baru saya liat elu," kataku mengiba
sambil mendekatinya.

Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku
mendekatinya.

"Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,"
katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku
secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah
membuatnya panik.
"Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa,
beneran," kataku.

Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang
mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan
keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih
tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan
kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan
kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh,
aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin
runyam.

"Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu?
Lepasin enggak!!," kata Marta.

Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya.
Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa
terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan
kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan.
Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang
tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di
belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia
agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih
tubuh halus itu.

Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya.
Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun
tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih
mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku
menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma
wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik
bibirku mengecup pipinya dengan lembut.

Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta.
Marta berteriak, "Lepasin! Lepasin!" dengan paraunya. Waduh,
runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya
refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha
vaginaik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, "Hmmm!" saja.
Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku
justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.

Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat
memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk
diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di
sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun
berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa
mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan
kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa,
tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa
mengenainya, mulutnya tersekap.

Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit
muncul urat-urat karena usaha Marta untuk vaginaik,
benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir
bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai
kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar
otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku
mendapatkan caranya.

Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku
dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi,
kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana
pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke
belakang.

Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah
usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana
pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya
meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat
aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu
pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.

Astaga! Berhasil!

Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat
terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan
itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana
dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar,
dia hendak vaginaik dan meronta lagi, namun aku telah siap.
Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di
antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku,
karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya
dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi
bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat
genitalnya.

Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di
sandaran sofa, aku berbisik,

"Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan
orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi
saya perkosa?"

Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini
berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya
menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma
berujar sambil mengisak,

"Dodi, please... Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya
enggak akan bilang Vina. Beneran."

Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di
ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium
bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku
langsung saja menelusup ke selangkangannya. Marta tak bisa
mengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat
itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak
lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus
tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.

Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan
telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan
ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun
setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit
ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam
vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku,
sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.

"Jangan Dod," pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu
memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit,
membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi,
tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan
mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. "Adik"-ku
ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak
sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah
berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.

Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa
mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya
dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri.
Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga
mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena
dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin
basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.

Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala
penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha
berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung
memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan.
Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,

"Jangan..." teriaknya atau terdengar seperti rintihan.

Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit
lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah
masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada
di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan
menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada
tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan
perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya.
Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur
lagi.

Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih
mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke
dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati
onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa
begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak
terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas
perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta
hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan
perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan
pinggulku.

Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut.
Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih
menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran
di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri
berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka
kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang
lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung
vagina Marta.

Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya
dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya
dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk
huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta
mendesah lepas, tak tertahan lagi.

Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering
menegang, dan mengeluarkan rintihan, "Ah... ah..."

Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua
tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah
menjambak kepalaku."Aaahhh," lenguhan panjang dan dalam keluar
dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu
tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas
di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan
penisku berdenyut makin keras dan sering.

Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan
itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali
ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling
berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada
di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan
putingnya.

Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku,
sementara denyut di penisku pun semakin hebat.

"Uhhh," aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras,
penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi
muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.

Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang,
dan menjerit, "Aahhh". Kemudian pelukannya melemas. Dia
mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini
berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan
aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya.
Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang
membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan
di vaginanya.

Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya
terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah
menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.

Grrreeekkk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Astaga! aku dan
Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang
terlempar berserakan

 FOTO LENGKAP KLIK

Cerita Seks antara aku dan Mbak Susi


Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kost dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kost. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan.

Keluarga tempat kost saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah namun tetap tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kost memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kost, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kost yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

"Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?" tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat.
"Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung" jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas.
"Apanya yang nggak bisa ngacung?" tanya saya pura-pura tidak tahu.
"Bego! Ya penisnya dong", kata Krus.
"Kok tahu kalau dia susah ngacung?" saya mengejar lagi.
"Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?" tutur Krus.
"Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu", kata Robin.
"Membantu? Apa maksudmu?" tanyaku tak paham ucapannya.
Robin tertawa sebelum berkata, "Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita"
"Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sus nggak bermaksud begitu", sergah Heri yang sejak tadi diam.
"Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti"

Diam-diam ucapan Robin itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Sus? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk perangkapnya?

Selama setahun kost diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang tanpa kusadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Sus. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu, ketika berjalan berpapasan, tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.
"Wah... maaf, Mbak. Nggak sengaja..." kataku sambil tersipu malu.
"Sengaja juga nggak apa-apa kok dik", jawabnya sambil mengerlingkan matanya.
Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Robin mendekati kebenaran. Mbak Sus memang berusaha memancing, mungkin tak puas dengan kehidupan seksual bersama suaminya.

Makin lama aku bertambah berani. Beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh dia cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi tetapi meremas. Sialan, reaksinya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome. Cuma aku masih takut. Siapa tahu dia punya kelainan, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.

Suatu hari ketika di rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kostku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Sus ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet.

"Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Sus lho", kataku.
"Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model ?".
"Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?"
"Coba apa...".
"Itu...".
"Mana?".
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.
"Ah... kamu ini".

Reaksinya makin membuatku berani. Aku mendekat. Mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Sus diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih. Dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah. Remasanku terus kulanjutkan.  "Dik... malu ah dilihat orang", katanya pelan. Tepisannya melemah.
"Kalau begitu kita ke kamar?"
"Kamu ini nakal yaa", ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.
"Mbak...".
"Hmm...".
"Bolehkah mm..., bolehkah kalau saya...".
"Apa hh..."
"Bolehkah saya memegang susu Mbak ?".
"Hmm...", Dia mendesah ketika kujilat telinganya.
Tanpa menunggu jawabannya tanganku langsung menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan.

"Dik, tutup pintunya dulu dong", bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik. Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Sus. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Sus menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

"Mau apa kau sshh... sshh", tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
"Mbak belum pernah dioral ya ?".
"Apa itu ?".
"Vagina Mbak akan kujilati".
"Lo itu kan tempat kotor ...".
"Siapa bilang ?".
"Ooo... oh.. oh ...", desis Mbak Sus keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Sus kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
"Aahh... Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh...".
"mm film biru dan bacaan porno kan banyak mm...", jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Aksi liarku pun terhenti mendadak.
"Sst ada tamu Mbak", bisikku.
"Cepat kau sembunyi ke dalam", kata Mbak Sus sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan. Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Sus. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Sus bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Sus menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.

"Siapa Mbak ?".
"Tukang koran menagih rekening".
"Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat...".
"Sudahlah", katanya sambil mendekati aku.
Tanpa sungkan-sungkan Mbak Sus mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Sus seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.
"Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa ? Pacarmu ?", tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus.

"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang dong", Mbak Sus pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih.
"Mbak mau saya oral lagi?" tanyaku.
Mbak Sus hanya tersenyum. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Sus mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.
"Gantian dong, Mbak".
"Apa muat segede itu....".
Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Sus agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

"Sorry ya Mbak".
"Ah kau ini mainnya aneh-aneh".
"Justru di situ nikmatnya, Mbak ... Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana ?", tanyaku sambil menciumi payudaranya.
"Ah malu. Kami main biasa saja kok".
"Langsung tusuk begitu maksudnya ...?".
"Nakal kau ini", katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.
"Suami Mbak mainnya lama nggak ?".
"Ah .". dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.
"Pasti Mbak tak pernah puas ya ?".
Mbak Sus tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Sus agak gemetar.
"Ohh ...", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.
Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Mbak Sus mulai menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.
"Ooo... ahh... hmm... ssshh...", desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.
"Enak Mbak ?", tanyaku.
"Emmhh ...".
"Puas Mbak ?".
"Ahh ...", desahnya.
"Sekarang Mbak berbalik. Menungging".
Aku mengatur badannya dan Mbak Sus menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
"Gaya apa lagi ini ?", tanyanya.
"Ini gaya doggy. Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah".

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Sus kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
"Capek ?", tanyaku.
"Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku".
"Tapi kan nikmat Mbak", jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
"Kita lanjutkan nanti malam saja ya".
"Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas", kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Sus tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Sus kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.
"Oh Mbak... aku mau keluar nih ahh ...".
Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Sus kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

"Vaginamu masik nikmat Mbak", bisikku sambil mencium bibir mungilnya.
"Penismu juga nikmat, Dik".
"Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi ya".
"Ah Mbak memang kalah pintar dibanding kamu".
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

"Mbak kalau pengin bilang aja ya".
"Kamu juga. Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst... kalau pas aman lho".
"Mbak mau nggak main ramai-ramai ?".
"Maksudmu gimana ?".
"Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok."
"Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah...".
"Tapi mau mencoba kan ?".
Mbak Sus tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali. Ah Mbak Sus, Mbak Sus.

 FOTO LENGKAP KLIK

Selasa, 02 April 2013

Cerita Panas - Malam Ultah Dewi


Hari ini hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan
aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya
PD,ceria dan spontan blak-blakan, meskipun kadang dia bisa
judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu
berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki
wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia
memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan
perasaan yang nyaman bagi kita-kita . Buatku dia adalah yang
terseksi. Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu
yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang
tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari
mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput
Dewiku. Dewi telah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar
makan malam, tetapi dia belum tahu kemanakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku
sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama
kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yg menawan, memakai
rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia
berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik
tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan
ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil
mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir
bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran
matanya menyorotkan hatinya yg senang. Aku membukakan pintu
mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai
jalan. Sepanjang jalanan kami bercanda ria, sambil tak lupa
kusinggung penampilannya yg anggun sekali hari ini. Dan Dewi
pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya.
Dia bersikap manja sekali terhadapku, yg bisa membuat hatiku
senang, menimbulkan perasaan suka yg dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di
tempat tujuan. Dewi sekilas rada terkejut setelah melihat
tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant ato hotel
mewah yg menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran
jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama
sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan
favoritnya Dewi. Kamipun jalan masuk kedalam kedai tersebut
dan mulai memesan makanan.

Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil,
kamipun terus mengobrol lalu lalang menunggu datangnya
makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang
tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil
sekali-kali, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha
menarik-narik tangannya dan berkata, " aihh, malu ah ". Akupun
hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja
aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai
memainkan jari-jari kakiku di betisnya yg ramping dan putih
itu. Ahh dia terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi
situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke
kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan
datangnya makanan yg kami pesan. Kamipun mulai menikmati
kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku
menyuapinya sekali-kali dan Dewipun membalasnya.

Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama
kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Tak
lama kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen
itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun
dan mulai menyanyikan satu lagu yg khusus telah kuminta dari
pengamen tersebut. Lagu dari Memes yg judulnya 'Terlanjur
Sayang'. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda
merah tersipu, sambil tersenyum. Malampun semakin bertambah
hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kamipun
beranjak keluar. Tetapi malam belom berakhir bagi kami. Aku
menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya. Mobil mulai
menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota.
Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan.
Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman
dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di
tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena
kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel,
dimana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift.
Sesampainya di kamar dewi langsung menyerbuku dengan
menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku. tetapi aku
menahannya, karena masih ada sesuatu yg ingin kuberikan kepada
Dewi, yaitu hadiah HUTnya. Aku mengeluarkan kotak kecil
berwarna biru dan berkata " Happy Birthday Sweetheart". Dewi
membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya,
terlihat matanya memancarkan sinar,"thanks honey" dan
merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit
kecil. Aku berbisik padanya " di coba donk sayang".

Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya
dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku
mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari
belakang. Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke
arah kiri dan mulai menciumi lehernya yg jenjang. Kumainkan
bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh
dengan ujung lidah dan ku hisap-isap, sementara tanganku mulai
mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak keatas. Dewi
sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah
ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka
ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai,kupeluk Dewiku
yg hanya berbalut pakainan dalam dari belakang. Tiba-tiba Dewi
membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku
dengan ganas. Kami saling berpagutan, ku melahap bibir atas
Dewi, dan dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami
berputar-putar didalam mulut. Ciuman berpindah keleher
masing-masing dengan di selingi gigitan-gigitan kecil.

Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku.
Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yg
berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk.
Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya
mengelus-elus kurvanya yg halus. Kumainkan jariku di antara
belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-isap
putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, "ahhh" ,
tanganku berusaha mencari kaitan BHnya di punggung, sedangkan
dewi sudah berhasil menurunkan celanaku. Kami hanya tinggal
bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi lagi dan memegangi kedua
tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di
dinding, aku memagut bibirnya lagi yg merah merekah. Tangan
kananku mengusap-usap lembut dadanya yg polos bersih. Sambil
tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah
ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah,
pemandangan yg tak akan kulupakan. Akupun melepaskan celanaku
dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik " malam ini aku
akan memanjakanmu, my princess".

Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku " aku sayang
kamu Roy". Akupun menatapnya balik dengan lembut dan berkata,
" aku mao supaya malem ini kamu tidak membantah apa yg aku
kata, aku masih ada sesuatu untukmu." "Ohh apa itu Roy ?". "
ssstttt" kataku sembari menutup mulutnya yg mungil dengan dua
jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yg telah
kusiapkan dari rumah. Kemudian aku duduk di samping dewi
sambil berkata, " aku akan menutup matamu sayang " " ah tapi ,
apaan sih kok tutup-tutup segala " protes Dewi. " Tenang
honey, just trust me, OK " kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju.

Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut. Dengan
perlahan aku membaringkan tubuh Dewi lagi, namun berbalik
telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah.
Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari
belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku
menjalar-jalar di punggungnya Dewi tepat di belahannya. Aku
menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari
tanganku saja, perlahan dari pundak sampe kebelakang lutut.
Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di
bawah lengannya. Naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun,
hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai
bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali
kuturunkan hingga pangkal paha, dimana aku merasakan sesuatu
yg hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan
lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat
bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian
dalam bergantian ku elus dengan jari dan telapak tangan,
sambil kucium dan jilat bagian belakang pahanya dan bagian
belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah dimana
aku mulai menghisap-isap jari-jari kakinya dengan perlahan dan
hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yg buberikan
ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke
pantatnya dimana aku memainkan kepala penisku di bulatan
pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, ku gesek-gesekan
dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat, dan perlahan lagi,
sambil ku tiduri Dewi dari atas.

Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeraslidahku yg kubuat
melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, dimana tepat di
tengah-tengah lehernya aku melahap, " eehh, nnggg, Roy ayo
Roy, ehmmmm ". Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia
sekarang berbaring terlentang masih dengan mata tertutup.
Akupun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yg merah
muda itu sambil menahan tangannya yg ingin memelukku. Dengan
tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku
melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali aku
tarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak
mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup
matanya.

Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi. " Ahhh Roy, kok kamu
gitu sih, jangan bikin aku geregetan donk " . Aku melahap
lehernya yg putih sekarang, lidah-lidahku bergerak bergantian
dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di
selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya
bisa menggelinjang tinggi yg langsung ku sambut dengan ciuman
lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan kebagian dadanya. Aku
mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yg
mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yg enak
sekali.

Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan
ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan
sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yg indah itu.
Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yg merekah
berdiri. Aku menghisapnya bagaikan bayi yg sedang menyusui,
sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan
ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku
juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar
tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku
menangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung
lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yg
bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya
sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku
berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya,
dan memasukan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan
kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan
kananku mulai bermain di bibir vaginanya yg sudah merekah
basah. Aku hanya menggesek-gesekan jariku tanpa berusaha
mengenai klitorisnya. Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan
mulai membuka bibir vaginanya.

Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi
melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai
menggesek-gesek ujung lubang vaginanya, sementara lidahku
kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga
menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan
hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk dalam vaginanya,
berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya
dinding vaginanya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding
vaginanya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap
klitorisnya, sememntara jempolku kumainkan di antara vagina
dan anusnya. Dewi berontak bangun " cepat Roy, ayo masukin
donkkk please". Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi
lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku diantara
selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yg menyelipkan
salah satu pahanya ke selangkanganku.

Kamipun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di
paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak
dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku
dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil
menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di
arahkan ke vaginanya, dan " ahhhh" kurasakan hangatnya
kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot vagina
Dewi. Dewi sekarang berada diatasku dan mengambil kontrol. Dia
menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil
menciumiku dengan ganasnya. Tubuh kami berkeringatan, aku
meremas-remas dadanya Dewi, kemudian aku memeluk dewi
erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta
memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin
mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba
aku merasakan sensasi yg luar biasa, sekujur tubuhku
bergetar,terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi
vaginanya. Demikian pula dengan Dewi dia memelukku erat-erat.

Kamipun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai
dalam rasa nikmat. Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah
kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. aku mengecup
kening Dewi. " Happy Birthday Honey ".

--------------------------------------------------------------------------------

Hari ini hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan
aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya
PD,ceria dan spontan blak-blakan, meskipun kadang dia bisa
judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu
berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki
wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia
memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan
perasaan yang nyaman bagi kita-kita . Buatku dia adalah yang
terseksi. Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu
yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang
tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari
mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput
Dewiku. Dewi telah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar
makan malam, tetapi dia belum tahu kemanakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku
sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama
kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yg menawan, memakai
rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia
berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik
tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan
ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil
mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir
bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran
matanya menyorotkan hatinya yg senang. Aku membukakan pintu
mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai
jalan. Sepanjang jalanan kami bercanda ria, sambil tak lupa
kusinggung penampilannya yg anggun sekali hari ini. Dan Dewi
pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya.
Dia bersikap manja sekali terhadapku, yg bisa membuat hatiku
senang, menimbulkan perasaan suka yg dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di
tempat tujuan. Dewi sekilas rada terkejut setelah melihat
tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant ato hotel
mewah yg menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran
jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama
sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan
favoritnya Dewi. Kamipun jalan masuk kedalam kedai tersebut
dan mulai memesan makanan.

Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil,
kamipun terus mengobrol lalu lalang menunggu datangnya
makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang
tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil
sekali-kali, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha
menarik-narik tangannya dan berkata, " aihh, malu ah ". Akupun
hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja
aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai
memainkan jari-jari kakiku di betisnya yg ramping dan putih
itu. Ahh dia terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi
situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke
kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan
datangnya makanan yg kami pesan. Kamipun mulai menikmati
kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku
menyuapinya sekali-kali dan Dewipun membalasnya.

Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama
kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Tak
lama kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen
itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun
dan mulai menyanyikan satu lagu yg khusus telah kuminta dari
pengamen tersebut. Lagu dari Memes yg judulnya 'Terlanjur
Sayang'. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda
merah tersipu, sambil tersenyum. Malampun semakin bertambah
hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kamipun
beranjak keluar. Tetapi malam belom berakhir bagi kami. Aku
menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya. Mobil mulai
menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota.
Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan.
Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman
dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di
tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena
kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel,
dimana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift.
Sesampainya di kamar dewi langsung menyerbuku dengan
menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku. tetapi aku
menahannya, karena masih ada sesuatu yg ingin kuberikan kepada
Dewi, yaitu hadiah HUTnya. Aku mengeluarkan kotak kecil
berwarna biru dan berkata " Happy Birthday Sweetheart". Dewi
membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya,
terlihat matanya memancarkan sinar,"thanks honey" dan
merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit
kecil. Aku berbisik padanya " di coba donk sayang".

Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya
dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku
mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari
belakang. Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke
arah kiri dan mulai menciumi lehernya yg jenjang. Kumainkan
bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh
dengan ujung lidah dan ku hisap-isap, sementara tanganku mulai
mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak keatas. Dewi
sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah
ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka
ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai, kupeluk Dewiku
yg hanya berbalut pakainan dalam dari belakang. Tiba-tiba Dewi
membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku
dengan ganas. Kami saling berpagutan, ku melahap bibir atas
Dewi, dan dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami
berputar-putar didalam mulut. Ciuman berpindah keleher
masing-masing dengan di selingi gigitan-gigitan kecil.

Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku.
Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yg
berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk.
Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya
mengelus-elus kurvanya yg halus. Kumainkan jariku di antara
belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-isap
putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, "ahhh" ,
tanganku berusaha mencari kaitan BHnya di punggung, sedangkan
dewi sudah berhasil menurunkan celanaku. Kami hanya tinggal
bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi lagi dan memegangi kedua
tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di
dinding, aku memagut bibirnya lagi yg merah merekah. Tangan
kananku mengusap-usap lembut dadanya yg polos bersih. Sambil
tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah
ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah,
pemandangan yg tak akan kulupakan. Akupun melepaskan celanaku
dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik " malam ini aku
akan memanjakanmu, my princess".

Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku " aku sayang
kamu Roy". Akupun menatapnya balik dengan lembut dan berkata,
" aku mao supaya malem ini kamu tidak membantah apa yg aku
kata, aku masih ada sesuatu untukmu." "Ohh apa itu Roy ?". "
ssstttt" kataku sembari menutup mulutnya yg mungil dengan dua
jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yg telah
kusiapkan dari rumah. Kemudian aku duduk di samping dewi
sambil berkata, " aku akan menutup matamu sayang " " ah tapi ,
apaan sih kok tutup-tutup segala " protes Dewi. " Tenang
honey, just trust me, OK " kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju.

Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut. Dengan
perlahan aku membaringkan tubuh Dewi lagi, namun berbalik
telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah.
Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari
belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku
menjalar-jalar di punggungnya Dewi tepat di belahannya. Aku
menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari
tanganku saja, perlahan dari pundak sampe kebelakang lutut.
Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di
bawah lengannya. Naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun,
hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai
bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali
kuturunkan ingga pangkal paha, dimana aku merasakan sesuatu
yg hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan
lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat
bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian
dalam bergantian ku elus dengan jari dan telapak tangan,
sambil kucium dan jilat bagian belakang pahanya dan bagian
belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah dimana
aku mulai menghisap-isap jari-jari kakinya dengan perlahan dan
hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yg buberikan
ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke
pantatnya dimana aku memainkan kepala penisku di bulatan
pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, ku gesek-gesekan
dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat, dan perlahan lagi,
sambil ku tiduri Dewi dari atas.

Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeraslidahku yg kubuat
melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, dimana tepat di
tengah-tengah lehernya aku melahap, " eehh, nnggg, Roy ayo
Roy, ehmmmm ". Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia
sekarang berbaring terlentang masih dengan mata tertutup.
Akupun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yg merah
muda itu sambil menahan tangannya yg ingin memelukku. Dengan
tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku
melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali aku
tarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak
mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup
matanya.

Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi. " Ahhh Roy, kok kamu
gitu sih, jangan bikin aku geregetan donk " . Aku melahap
lehernya yg putih sekarang, lidah-lidahku bergerak bergantian
dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di
selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya
bisa menggelinjang tinggi yg langsung ku sambut dengan ciuman
lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan kebagian dadanya. Aku
mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yg
mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yg enak
sekali.

Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan
ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan
sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yg indah itu.
Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yg merekah
berdiri. Aku menghisapnya bagaikan bayi yg sedang menyusui,
sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan
ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku
juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar
tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku
menangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung
lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yg
bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya
sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku
berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya,
dan memasukan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan
kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan
kananku mulai bermain di bibir vaginanya yg sudah merekah
basah. Aku hanya menggesek-gesekan jariku tanpa berusaha
mengenai klitorisnya. Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan
mulai membuka bibir vaginanya.

Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi
melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai
menggesek-gesek ujung lubang vaginanya, sementara lidahku
kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga
menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan
hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk dalam vaginanya,
berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya
dinding vaginanya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding
vaginanya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap
klitorisnya, sememntara jempolku kumainkan di antara vagina
dan anusnya. Dewi berontak bangun " cepat Roy, ayo masukin
donkkk please". Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi
lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku diantara
selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yg menyelipkan
salah satu pahanya ke selangkanganku.

Kamipun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di
paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak
dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku
dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil
menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di
arahkan ke vaginanya, dan " ahhhh" kurasakan hangatnya
kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot vagina
Dewi. Dewi sekarang berada diatasku dan mengambil kontrol. Dia
menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil
menciumiku dengan ganasnya. Tubuh kami berkeringatan, aku
meremas-remas dadanya Dewi, kemudian aku memeluk dewi
erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta
memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin
mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba
aku merasakan sensasi yg luar biasa, sekujur tubuhku
bergetar,terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi
vaginanya. Demikian pula dengan Dewi dia memelukku erat-erat.

Kamipun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai
dalam rasa nikmat. Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah
kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. aku mengecup
kening Dewi. " Happy Birthday Honey ".

 FOTO LENGKAP KLIK